Saturday, July 23, 2016

Berhenti sejenak

Saya suka menulis sejak kecil, sejak tk atau sd—saya lupa persisnya kapan. Dimulai dari coretan ringan di buku tulis bergaris, di halaman belakang buku, di kertas-kertas sobekan, bahkan tisu, tembok atau tatakan gelas dari kertas, saya senang corat-coret di situ—kadang dari coretan ringan itu jadi sebuah paragraf lalu jadi sebuah curhatan mengenai kejadian yang saya alami. Dari sd saya hobi menulis buku harian—dan ketika hari ini saya baca lagi, rasanya ingin sekali merutuki diri sendiri, kadang isinya cuma curhatan bodoh dengan tulisan alay disana-sini, tapi percayalah tanpa 'mereka' saya mungkin gak pernah jadi pribadi yang lebih baik.
Mulai smp saya kepikiran nulis blog, kebanyakan isinya masih tentang curhatan—tokoh yang bikin saya pingin nulis di blog, salah satunya juga tak lain dan tak bukan adalah raditya dika, mas yang satu ini dulunya banyak mempengaruhi saya untuk mau nulis, muncul inspirasi untuk nulis sejak baca bukunya yang dulu dikenalin sama nadhif.
Lanjut dari sana, blog saya dulu pas smp namanya agak aneh emang nadirasonmymind.blogspot.com wkwkwk, dulu saya banyak nulis disitu—tapi karena satu dan lain hal blognya harus kandas. Lalu gak lama setelah itu saya pun bikin blog baru mindrecommended.blogspot.com yang sampai sekarang masih ada (yaitu blog ini). Umur blog ini kurang lebih 5 tahun—saya juga gak pernah tau ada yang baca atau enggak, yang jelas untuk kesenangan aja nulis di sini.
Saya selalu percaya semua orang dianugerahi kemampuan untuk nulis—walau pun saya gak bisa jago nulis—tapi saya selalu percaya, setiap orang pasti bisa dan sebagian dianugerahi kemampuan lebih untuk nulis.
Hidup saya dalam tulis-menulis itu tarik ulur, banyak tulisan-tulisan gak penting yang akhirnya saya draft-kan lagi, karena menurut saya memalukan. Kadang saya berhenti untuk nulis, karena tidak tau apa yang harus ditulis—dan sangat sulit menuangkan kata-kata dalam pikiran menjadi kalimat utuh dalam tulisan. Menulis itu memang sangat asik, tapi menyusunnya menjadi diksi yang indah dan mengalir itu merupakan pekerjaan yang ekstra.
Kali ini saya ingin curhat lagi—akhir-akhir ini, saya kesulitan menulis. Saya tidak tau kenapa, tapi saya seperti kehilangan sesuatu—seperti 'nyawa' yang memenuhi rongga pikiran saya, semuanya hilang bak ditelan bumi. 
Mungkin saya akan berhenti sejenak, mencari kawan dari nyawa itu.

Tuesday, July 19, 2016

'Ikan' yang tidak bisa berenang

sign saya ikan. saya suka air, saya suka berada di pantai. tapi saya tidak bisa pergi ke tengah-tengah, karena saya tidak bisa berenang. saya tidak bisa berenang seperti ikan.

#
setiap orang pasti punya ketakutan-ketakutan dan hal yang sangat ingin dihindari dalam hidupnya. saya dan ketakutan terbesar adalah berkonflik dengan orang lain. saya sangat menghindari konflik sejak sekolah menengah, melelahkan untuk bertikai dengan kekanakkan. menekan ego itu sungguh sangat sulit.

aku juga takut dibenci, walau pun aku sudah tau ada saja mereka yang tidak suka padaku. tapi aku tetap takut dibenci. tapi apa mau dikata.

#

badai sering kali menerjang dan memaksa angka idealisme untuk susut. kadang kala ikut menjadi mayoritas karena takut untuk menjadikan diri sebagai bagian dari minoritas. ketakutan membuat bodoh katanya, karena jadi tidak bisa menjadi berbeda. padahal beberapa ada yang menyebutkan menjadi berbeda itu baik, tapi ketakutan menjadikannya sebuah kolektivisme.
tidak menjadi bernilai, karena dituntut untuk mencapai sebuah kesamaan, suara mayoritas.
mungkin karena kita masih hidup pada norma dan nilai sosial, tidak menutup kemungkinan mayoritas adalah elemen untuk membungkam, lalu jadi bumerang di kemudian.

Tuesday, July 12, 2016

Aku dan banyak orang lainnyaadalah mereka-mereka yang sedang tersesat.
Burung bebas terbang saat dilepaskan dari kandang, ayam-ayam juga bebas berlari saat dibebaskan dari kandangnya, kucing pun begitu—bebas tidur-tiduran di jalan tanpa diusir. Daun ketika menua melepaskan diri dari batangnya, jatuh dan berserakan ke tanah. 
Tapi aku bukan mereka, aku hanya lagi tersesat.

——

Apa kamu pernah mendengar sebuah cerita tentang orang yang banyak menghabiskan waktunya dipinggir jendela—mengenggam gelas kopi yang tak jua habis, yang tadinya hangat lalu menjadi dingin?
Apa kamu pernah melihat seseorang yang begitu berdedikasi dengan bukunya, memeluk buku dengan erat dalam genggaman jari-jarinya? 
Apa kamu pernah mengalami situasi berada di sebuah ruangan, lalu hujan turun dan kamu menyukai keadaan itu?
Apa kamu pernah berdiri ditengah keramaian lalu merasa kesepian?
Apa kamu pernah berdiri dengan begitu bahagia. namun ketika kamu melihat ke arah belakang—ada orang yang memuat harimu hancur berantakan?
Apa kamu pernah merasa hidupmu dipenuhi ketidak pastian?