Saturday, October 11, 2014

"Terlalu banyak mengadu pada tulisan, 
sampailah aku pada posisi sulit mengungangkapkan
 kejujuran lewat sebuah ucapan."

Tuesday, October 07, 2014

Saya pun, Tumbang

Selama hampir dua setengah tahun merasakan yang namanya menghalau sakit, selalu menyeolah-olahkan baik-baik saja. Terlalu semangat, karena ada suatu kegiatan yang harus dikejar di sekolah. Ya konteksnya kadang disalah gunakan. Datang ke sekolah untuk melaksanakan kewaijban lain, bukannya tulus untuk sekolah. Ketika masa sipil akhirnya datang, banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Rasa lelah, sakit, dsb ditabung jadi satu dan akhirnya terpaksa ikut UTS susulan. 
Entah kenapa, saya ini manusia deadline sejujurnya. Barangkali, lebih suka dikejar dengan waktu, bukannya mengikuti arah waktu.
Saya sendiri merasa bersalah sama bapak ibu, beliau-beliau sangat baik. Tapi skala saya mengecewakan dengan membanggakan justru lebih banyak ke arah mengecawakan. Saya sudah mencoba membuat mereka bangga, barangkali bukan di akademis. Tapi ukuran kesuksesan orang tua saya, dengan saya lakukan barangkali tidaklah sama. 
Saya cuma bisa berdoa, semoga badan ini mau diajak bekerja sama disisa tiga hari ke depan.

-dari yang belum beres 
ngerjain web dan kartul-

Monday, September 22, 2014

(Untitled post)

Mau curhat sama stranger. Stranger kan orang asing, gak kenal juga. Jadi kalau pun berbagi ya sekedar selewat aja. Entah kenapa terlalu banyak yang ingin dibagi, ingin berbagi sama telinga-telinga yang lain, kasihan juga kalau harus ke itu-itu lagi. 
Hari ini super, gak pernah selelah ini bahkan olahraga pun gak separah ini. Tapi Pak Darwin terima kasih banyak, saya diajarin diet lari-lari satu smansa, demi baju olahraga baru :') ngos-ngosan vrooh.
Tadi siang di koridor, pas duduk sambil merem. Lagi galau maxxx, kegalauan tentang doi bahkan sampai pupus, atau sudah tidak peduli lagi? amin...tapi salah fokus. Terus kepikiran, di setiap kepemimpinan dibaliknya selalu ada korban ya? Ya...yang merasa jauh, yang merasa tidak nyaman dengan ini, yang belum sempat terjangkau. Ya, terus sedih. Setahun kemarin sudah memberi apa aja nad? kok ada yang sampai terlewat begitu, nad? Mengasihani diri sendiri sama saja dengan sok-sok melas tapinya. 
Sedang memperjuangkan banyak hal, salah satunya yang akan mengisi yang nantinya akan kosong. Banyak sudah pergulatan untuk mempertahankannya, semoga setimpal ya. Semoga sesuai. Meskipun (ini mengutip kata iffah) "toh pada akhinrya yang ditinggalkan tanggung jawab, kan?"
Ah semoga yang masih kurang tahun ini, di sisa tahun ini dan berikutnya tidak ada celah sama sekali. Kalau kata anak zaman ini, babat lah!