Thursday, September 29, 2016

Takut kehilangan, ditinggalkan, dilupakan; kadang membuat saya sulit untuk punya siapa-siapa. Terlalu banyak tembok yang saya bangun disekitar diri saya, terlalu banyak omongan yang disimpan hanya untuk tertentu saja yang saya anggap dekat. Tidak itu ini sejak kapan, tapi nyatanya memang begitu

Tuesday, September 06, 2016

Berbagi keresahan

Plot hidup saya dalam satu hari ini sungguh luar biasa, mulai dari drama di pagi hari. Sederhana sih, hanya karena akumulasi emosi yang berawal dari marah dan merasa terbebani, lalu tangis pertama di kampus akhirnya pecah juga. Malunya adalah saya nangis tepat lima menit sebelum kelas dimulai. Selama kuliah ini saya jarang menangis, toh buat apa? Saya selalu bilang pada diri saya sendiri, "nangis gak akan bikin jutaan masalah lo selesai".
Saya sadar betul sebagai orang dengan derajat yang sama, kamu tidak akan mungkin mampu mengontrol orang untuk berpikir seperti kamu.
"Socrates yang sedang berusaha mengajarkan pemikirannya tentang konsep 'eudamonia' justru diaggap menyesatkan hanya karena bukan bagian dari mayoritas. Ia pun meninggal pasca meminum racun dalam suasana demokrasi yang sedang gembar-gembor."

Lucu sekali ya rasanya, kebaikan itu dianggap sebagai sebuah ancaman dan ada saja yang menjadi korban dalam ketidakadilan didalamnya. Tapi memang tabiat manusia seperti itu, mereka hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar; seringkali hanya berpegang teguh hanya pada hal yang realistis, hal 'setengah matang' selalu dikambing hitamkan.
Saya adalah orang yang selalu terburu dalam mengerjakan sesuatu, ingin semua cepat selesai sampai lupa menikmati yang namanya proses. Maka hal sesimple minta "tolong" atau "bantuin saya dong", hal-hal itu jarang kali terucap kecuali mereka adalah orang yang saya percayai. Bawaan dari rumah menjadikan saya paket seperti ini barangkali. 
Sampai detik ini akumulasi emosi itu masih ada dimana-mana tidak tahu mau teriak pada siapa, belum selesai pula drama pagi hari itu merambat menjadi satu masalah baru di malam hari. 
Saya tidak punya maksud apa-apa, cuma ingin membagi keresahan ini. Sulit ya memang 'memaksa' segala kondisi untuk tunduk, untuk mampu melancarkan konspirasi semesta.

Saturday, August 06, 2016

teman hidup

"duh udah ga kuat mau nikah aja, please please. ga kuadh lagi kuliah."
"anjir mana sih ini, yang lamar gua ga dateng-dateng"
"sumpah suami gua otw"
"plz mo nikah aja"

Itu adalah kalimat-kalimat yang sering terlontar tiap kali saya dan kroco-kroco (re:temen-temen) berkumpul. Kita sering bercanda, berbagi nasib; bercanda untuk buru-buru dilamar seseorang atau menikah. Biasanya hal ini bakal terucap tiap stress karena tugas, sedang menghadapi masalah sulit di kehidupan kampus, bernafas keluar kelas selesai ujian, bergunjing saat liat keluarga muda yang dorong-dorong stroller dengan lucuknya di mall, atau ngeliat laki-laki mapan yang siap digeret ke KUA.
Tapi apa menikah semudah itu?

tbc...