Wednesday, 10 February 2016

Februari ke 19

Maafkan untuk terlalu cerewet di bulan ini.
Iya—bulan Februari. Bulan kedua di tahun ini, 2016.
Sensitif karena 13 hari lagi saya bertambah tua.
Saya selalu benci diri ini yang kelewat insecure terhadap sesuatu. Saya sering kali mempertanyakan hal-hal yang sudah jelas, hal-hal yang kelewat—lumrah. Saya selalu takut—padahal sudah jelas, buat apa lagi dipertanyakan. 
"ah gimana ya nanti"
"aduh gue bisa gak ya"
Saya terlalu sibuk, sibuk berkutat dengan pikiran saya sendiri.  Harus saya akui, gak mudah untuk berbagi. Berbagi tidak sebercanda itu, kadang kita perlu orang yang tepat, waktu yang tepat.
 

Tuesday, 9 February 2016

Mohammad Hatta

HATTA
SERI BUKU TEMPO : BAPAK BANGSA

Jika masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mencetak ulang tulisannya yang terbit pada 1962:

"Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. 
Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tetara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai." (hal. 2, Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa)

Sunday, 7 February 2016

Melupakan dan Dilupakan— dua hal lumrah dalam hidup ini. Kita bisa menjadi pelaku dan korban dalam dua situasi yang kelihatannya 'tipis' ini. 

Le Petit Prince

Le petit prince

"sindiran untuk 'mereka' yang terlalu serius"

Sebuah buku yang selalu mengingatkan kita pada masa kecil—iya sebelum jadi serius seperti orang dewasa pada umumnya. Sebelum terkadang mimpi yang kita punya dipupuskan oleh realitas dari ucapan orang dewasa.
Novel karya Antoine de Saint-Exupéry

Sinopsis:
Aku dikisahkan sebagai narator yang masih kecil (berusia 6 tahun) dan senang menggambar ular sanca yang memakan gajah, namun tiap kali menunjukkan gambar tsb pada orang dewasa—mereka akan menjawab itu sebagai topi, menyuruhnya berhenti menggambar dan belajar ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung. 'Aku' pun tumbuh besar sebagai pilot, suatu waktu ia mengalami masalah dengan pesawatnya lalu terdampar di sebuah gurun, bertemu dengan sang Pangeran Kecil secara menakjubkan, yang minta digambarkan seekor domba—Pangeran Kecil itu tinggal di sebuah "planet"-nya lalu menceritakan perjalanannya dari asteroid 325-330.
Akan banyak kita temukan pelajaran menarik dari cerita pangeran kecil tersebut.
"Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu terus menerus memberi penjelasan."
——
Kita sering kali melupakan imajinasi masa kecil kita, mendewasa lalu menyempitkan cara pandang kita. Tapi ketika membaca lagi buku ini saya sadar—bahwa perspektif anak-anak jauh lebih baik. Dengan kejujuran dan kesederhanaan hidup   Exupéry berhasil menyentil kita yang terlalu fokus pada urusan angka, ilmu-ilmu, sampai melupakan "dunia ini juga indah walau dipandang dari perspektif yang sederhana".
Saya merekomendasikan buku ini untuk membentuk pribadi berkualitas serta mengubah cara pandang kita terhadap hidup.

Thursday, 4 February 2016

Surat dari Praha review

Tergelitik untuk menonton film ini sejak melihat trailernya di Youtube beberapa pekan lalu. Singkirkan isu plagiat yang menimpa film ini, tapi coba ingat apa yang akan disuguhkan dalam film ini.
Keindahan dan konsistenitas film ini membuat saya bangga dengan film Indonesia, menyajikan keindahan Prague dan sebuah kisah lama-- berangkat dari masa lalu yang perlu dimaafkan yang (barangkali)belum selesai. 

Sinopsis:
Bercerita tentang Laras (Kemala Dahayu Larasati) yang akan bercerai dari suaminya karena kasus perselingkuhan, meminta sang Ibu (Sulastri) untuk meminjamkan sertifikat rumahnya. Percek-cokan terjadi antara keduanya yang tidak pernah akur, karena Ibunya selalu mengurung diri setelah menerima  surat dari seseorang dan kematian ayahnya yang menyedihkan. 
Tidak lama setelah itu, sang Ibu pun meninggal dan mewasiatkan sebuah kotak berisi surat-surat miliknya, dan surat kuasa untuk sertifikat rumah yang harus ditanda tangani seorang bernama Jaya, yang Laras tidak pernah dengar sebelumnya. Dimulailah perjalanannya untuk menemui Jaya di Praha. Adalah Jaya, seorang sarjana nuklir yang terpaksa menjadi janitor di sebuah tempat pementasan, kehilangan citizenship karena menolak rezim Orde Baru di tahun 1965
Untuk tahu apa kelanjutan hubungan dan rahasia diantara Laras, Jaya, dan Sulastri ada baiknya kita tidak malas melangkahkan kaki menuju bioskop untuk menonton. 

Film ini setidaknya menggambarkan sejarah kita, Indonesia-- mereka yang terpaksa ''lari'' karena menolak Orde Baru; terasing di negeri orang, dan ini bukan lelucon tapi fakta. Karena dahulu Orde Baru memang menawarkan itu kepada siapa pun yang menolaknya.  
Film ini juga menyuguhkan visualisasi yang indah serta musik yang membuat saya cukup untuk menitihkan air mata. Saya begitu mencintai chemistry Julie Estelle dan Tio Pakusadewa dalam film ini. Ada benci dan rasa kasihann antara keduanya, nyanyian dan alunan piano mereka.
Bebarapa aktor dan aktris kawakan muncul dalam film ini, Rio Dewanto, Widyawati, Jajang C. Noer, Chicco Jerikho.



Monday, 1 February 2016

waktu, huh?

Akhir-akhir ini hobi gue adalah mensarkasi waktu,
"ah coba aja waktu itu"
"ah timingnya udah ga pas"
"ya gara-gara waktunya sih"

Gue bisa bilang segala sesuatu butuh timing yang pas, kalau gak semuanya akan jadi basi. 

Basi.

Gue sadar sesuatu akan terus datang dan pergi, waktu dan semesta akan terus berkolaborasi membentuk iklim skeptis dalam diri tiap-tiap individu. Gue sadar gak akan selalu nemu orang yang terus-terusan berdiri di pihak lo, kadang lo dipaksa menerima perbedaan; supaya menghasilkan keserasian. 
Makin ke sini, orang-orang mulai punya 'ideologi'nya sendiri, heterogenitas gak lagi sepele di sini. alam menyeleksi orang-orang disekitar lo, mencari yang paling ideal & akhirnya kuantitas telah digantikan oleh kualitas. 

Makin sedikit, makin kelihatan kan?
Iya, orang-orang yang tetap milih untuk stay--walaupun tau bobroknya lo kayak gimana.

Fase ini, yang lagi sedang gue hadapi saat ini.
mereka datang dan pergi, orang-orang yang gue anggap akan selalu ada. bukan--bukan,ketergantungan. tapi cukup tinggal di sisi gue, tapi itu harapan yang sulit.

ah, ada nasihat hidup juga;
kalau lo udah dilahirkan katanya syukuri aja. 
Tidak perlu frustasi pun takut untuk ditinggalkan, katanya.
jadi fase di hidup ini ya seperti ini adanya. selalu siap untuk ditampar walau sedetik yang lalu masih tertawa, selalu siap diguyur air hujan walau langit masih cerah-cerahnya. 

Gue sadar waktu selalu jadi pemilik andil segalanya, dia adalah kefanaan paling bebas--tidak punya keberpihakkan; paling punya kuasa tinggi, bisa mengubah siapa saja. 
kita yang dulu kenal jadi orang asing,
kita yang dulu orang asing jadi kenal satu sama lain.
isn't it funny huh? 

Lagi gue harus jadi membosankan dengan berucap,
ya gue harus berdamai dengan si 'wahai waktu'.

-ruang dengar2016

Saturday, 23 January 2016

Perks of dating me

Perks of dating me

Ini jijik sih, bodo amat tapi pingin nulis ini
1. Gue ini ga cantik-cantik bgt, gue bukan badhayyy������ tornado, or apa pun. Tapi gue cukup punya sedikit 'sense' fashion jd kl lo pergi sama gue ga malu-maluin.  Dan lagi lo jadinya gausah takut gue tiba2 ditaksir banyak orang.
2. Gue gendut, buat kalian yg suka cewek berbadan ledom. Sampai jumpa lagi kapan-kapan. Jadi gue sukanya wisata kulineran, emang makanya w gendut. Jadi kalo lo sama gue, gue pastiin lo ga akan laper. HAHAHAHA. Gue orang yang nerimo aja mau makan di pinggir jalan, tenda-tenda kaki lima, sampai ke restauran berbintang its okay. Karena balik lagi, ngomongin makanan itu tentang cita rasa, buka gengsinya aja.
3. Gue tau kapan orang lagi udah ga mood atau masih mood untuk diajak ngobrol, when they're get bored, when they're not in a good mood— literally i can feel it. Jadi kalo lo udah ga minat diajak ngomong gue akan diem.
4. Kalo lo pergi sama gue, I swear lo ga akan boring, we will get along well #ew. Gue punya satu teori tentang tempat, gini: "lebih baik tempat yang salah; bersama orang yang tepat"ketimbang sebaliknya I mean gini deh lo di tempat seindah apa pun tapi kalo misal temen lo ini 'annoyed you all the time'. 
Percuma. 
Sebaliknya secaur-caurnya tempat kalo lo di sana orang yang lo nyaman & cocok sama lo.. so yeah;
5. Gue punya 2 kakak cowok, gue paham banget cara baca pikiran cowok (nah ini kasusnya masih baca pikiran cowok lho ya, bukan laki-laki..maaf mz)
6. Gue periang gitu sih wk, maksudnya humoris. gue pengennya partner gue nanti juga fun gitu. Ya pun kalo dia cowok yang kek tipe kanebo kering tapi kalo dia tetep bisa ketawa sama gue, itu gue maklumin lah. Berarti dia setia dan ga umbar-umbar cinta
7. Gue bisa dress-up in cowok, seriusan. Gue suka dandanin cowok-cowok, karena fashion buat laki-laki itu 100x lebih gampang ketimbang cewek, cewek itu rebek. mungkin kalo ada cowok yang mau makeover?
8. Gue itu orang yang kalo pergi ga mikirin naik apa perginya, dari ojeg, angkot, jalan kaki, kereta, bis, motor, mobil. Yang penting kan sama kamu. HE.